Hendra Jatmika Pristiwa

Music Is My Passion, While Excellence Is My Priority

Hendra, Tunanetra Taklukan Musik Digital

Berita ketiga ini juga masih berisi tentang profil Saya. Kali ini penulisnya adalah Ramadhani, yang juga seorang tunanetra. Uniknya lagi, tulisan yang dibuat pada akhir 2012 ini juga dimuat di dalam situs yang dibuat dan dikelola oleh para tunanetra. Situs tersebut beralamatkan di www.kartunet.or.id. Kartunet sendiri merupakan sebuah akronim dari “karya tunanetra”.

Original Source:

http://www.kartunet.or.id/hendra-tunanetra-taklukan-musik-digital-1088/

Hendra, Tunanetra Taklukan Musik Digital

Ramadhani Ray

Jakarta, Kartunet.com – Musik Digital, Suara Digital, atau Audio Digital adalah harmonisasi bunyi yang dibuat melalui perekaman konvensional maupun suara sintetis yang disimpan dalam media berbasis teknologi komputer. Format digital dapat menyimpan data dalam jumlah besar, jangka panjang dan berjaringan luas. Hal Ini berarti bahwa musik digital merupakan format musik berteknologi tinggi, namun bukan berarti tunanetra tidak mampu berkecimpung di dunia musik digital.

Hendra Jatmika Pristiwa, atau yang lebih dikenal dengan Hendra J.P., adalah tunanetra yang berprofesi sebagai penata musik digital dan sound enginer untuk kegiatan rekaman musik. Terlahir sebagai tunanetra tak lantas membuat Hendra enggan bermimpi. Seperti kebanyakan tunanetra, Hendra juga menyukai dunia musik sejak masih sangat belia. Bermain musik di kafe-kafe atau acara pernikahan menjadi awal dari karirnya di dunia musik. Kemempuan bermusiknya yang semakin baik, membuat pria kelahiran 11 April 1975 ini bercita-cita lebih tinggi lagi, yaitu menjadi penata musik.

Sekitar tahun 1995, Hendra mulai sering berkunjung ke beberapa studio musik di Bandung. Di kota kelahirannya itulah, seorang temannya yang merupakan pemilik salah satu studio musik meminta Hendra untuk membantu kegiatan rekaman. Hendra mulai tekun mempelajari dan memasuki dunia musik digital karena ia ingin dapat menciptakan dan menata musik sendiri seperti musisi idolanya, Faris R.M. Bahkan dulu ia rela tak mendapat bayaran atas rekaman musik yang telah dikerjakannya demi memperoleh pengetahuan dan pelajaran lebih banyak tentang dunia yang kini ia geluti. Perjuangan memang selalu butuh pengorbanan, tentu tidak akan ada kesuksesan yang instan tanpa kerja keras.

Tahun 2003, Hendra mulai belajar computer, yaitu program sscrean reader “JAWS”. Setelah itu, sulung dari tiga bersaudara ini mempelajari lebih dalam tentang computer, dan mencoba memadukannya dengan semua jenis software untuk rekaman satu persatu, karena kebanyakan software rekaman saat itu tidak bisa akses dengan JAWS. Awalnya ia menggunakan Cakewalk Pro Audio 9, tapi karena merasa kurang professional dengan software sederhana itu, ia belajar lebih banyak lagi lewat internet. Ia bergabung pada suatu milis tunanetra penggemar dan penggiat musik digital melalui website jsonar.org. Anggota milis yang sebagian besar telah mahir di bidang tersebut, rupanya agak malas menghadapi pertanyaan-pertanyaan sederhana Hendra yang masih pemula. Kesal karena pertanyaannya tak pernah ditanggapi, Hendra pun tidak menyerah begitu saja. Ia mencari tahu lebih banyak tentang musik digital melalui situs-situs lain.

Suatu ketika, Hendra mencoba posting sebuah materi terbaru di milis tersebut dan ternyata mendapat sambutan hangat. Akhirnya teman-teman di milis tersebut yang berasal dari berbagai negara itu mulai mengakuinya, sehingga dari sanalah ia memperoleh banyak ilmu tentang musik digital dari teman sesama tunanetra. Singkatnya, Hendra banyak belajar secara otodidak lewat internet. Situs lain yang juga menjadi tempatnya belajar adalah hotspotclicker.org dan musictag.com. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan musiknya dan kemajuan teknologi, ayah dari satu putri ini kini menggunakan software Sonar 7 untuk menyelesaikan pekerjaanya.

Updated: March 24, 2015 — 4:07 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 6 =

Hendra Jatmika Pristiwa © 2016