Hendra Jatmika Pristiwa

Music Is My Passion, While Excellence Is My Priority

Hendra, Mandiri Secara Ekonomi dengan Digital Recording

Tulisan berikut ini merupakan tulisan yang dibuat dari hasil wawancara Saya dengan Eka Pratiwi Taufanti pada akhir Juli lalu. Eka yang lulus program sarjana dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang dengan predikat Cum Laude ini sebenarnya memiliki latar belakang pendidikan Sastra Inggris. Namun, Ia juga memiliki kegemaran dalam bidang kepenulisan. Beberapa di antaranya adalah dengan bergabung dalam sebuah komunitas kepenulisan di Kota Bangka dan aktif membuat tulisan di portal Solider. Bermula dari obrolan singkat Saya bersama Eka saat Saya menggunakan jasa penerjemahan dokumen yang ditawarkan Eka, Ia menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Saya sebagai narasumber yang akan menjadi artikel di Solider. Saat itu Eka tertarik dengan profesi Saya di bidang Digital Music Recording sebagai Arranger atau Penata Musik.
Akhirnya, Eka mewawancarai Saya dan hasil wawancaranya dapat dibaca pada artikel berikut.

11 August 2018

Solider.id Bandung – Difabel cenderung hidup dengan stigma. Stigma yang tumbuh pun seolah melarung mereka pada ruang berbatas serta pada kemandirian yang serba terbatas. Pentas untuk berkarya dan berdaya seolah mampet tersumbat anggapan bahwa difabel tak bisa apa-apa. Lantas imbasnya, tentu mengena pada segala aspek kehidupan mereka tak terkecuali urusan keuangan. Namun, bukti kemandirian secara ekonomi coba ditunjukkan oleh Hendra Jatmika Pristiwa, seorang difabel netra dari Kota Kembang Bandung lewat karya dan bisnisnya di dunia musik.

Digital Music Recording, itulah dunia yang digeluti oleh pria yang berprofesi sebagai music arranger (penata musik), composer (pengarang lagu), pengajar dan musisi itu. Digital Music Recording itu sendiri merupakan suatu teknik perekaman lagu secara digital atau komputerisasi. Dengan kata lain, musik yang dihasilkan berasal dari alat musik nyata yang dimainkan namun direkam secara digital dan tidak lagi konvensial menggunakan pita kaset seperti di masa lalu.

Dalam prosesnya, alat musik seperti piano, gitar, biola dan sejenisnya tetap dimainkan secara nyata oleh pemain musik namun perekamannya menggunakan komputer dan disimpan dalam hard disk.

Keinginan berkarir sebagai music arranger tentu tidak tumbuh begitu saja. Ada dua hal yang mendorong Hendra terjun ke dunia perekaman music digital. Pertama, musisi yang pernah mengiringi Keith Martin tersebut telah terbiasa dengan berbagai pernak-pernik dan proses perekaman music digital karena sudah sejak lama ia kerap menjadi jockey musisi-musisi lain. Jadi, secara teknis ia telah memiliki wawasan yang cukup. Kedua, ia memiliki keinginan untuk menjadi lebih dari seorang pemain musik. Menurutnya, telah banyak difabel netra yang pandai memainkan alat musik namun belum ada satu pun yang merambah dunia perekaman musik digital.

“Waktu itu belum ada saingan sesama difabel. Lagi pula, kalau mau bersaing ya jangan dengan sesama difabel, tapi harus dengan nondifabel,” ucap pria kelahiran Cimahi tersebut.

Sekitar tahun 2002 – 2003, pada titik itulah Hendra mulai mempelajari lebih dalam mengenai Digital Music Recording. Tantangan yang Hendra temukan ketika itu adalah sulitnya melawan rasa malas untuk menjadi seseorang yang skillful. Selain itu, memulai sesuatu yang tidak aksesibel juga merupakan tantangan ketika itu. Namun, Hendra bukanlah sosok yang menanti keaksesibilitasan itu muncul melainkan ia justru mencari cara agar software tersebut dapat ia gunakan.

“Waktu itu ada yang gak aksesibel. Lalu aku bayar orang untuk merekamkan gerakan mouse agar bisa diklik dan aku buat shortcut-nya,” tutur Hendra.

Dalam menekuni dunia perekaman digital, bisa dikatakan bahwa Hendra selalu melakukannya dengan penuh dedikasi dan totalitas. Waktu yang ia miliki ia investasikan untuk belajar berjam-jam di depan layar komputer. Ia percaya bahwa pengorbanan akan berbanding lurus dengan hasil atau pun sebaliknya. Begitu pun ketika Hendra harus mengeluarkan modal untuk membangun bisnis yang masih jarang digeluti oleh difabel ini. Ia mengaku bahwa urusan permodalan tergantung individu masing-masing. Namun, ia sendiri tidak ragu ketika harus mengeluarkan modal besar untuk mengembangkan bisnisnya karena ia telah yakin dengan apa yang ia kerjakan.

Dalam mengerjakan projectnya, Hendra biasanya dapat menyelesaikannya dalam waktu satu hari hingga seminggu. Tentu saja ada tantangan yang muncul seiring pengerjaan project tersebut. Menurut Hendra, tantangan yang ia hadapi adalah proses pengerjaan project itu sendiri. Terkadang Hendra harus mengarahkan penyanyi yang belum pernah melakukan rekaman sebelumnya. Selain itu, terkadang Hendra juga menjumpai musisi yang belum mengenal alat-alat rekaman. Oleh karena itu, Hendra harus mampu mengkomunikasikan segala tantangan itu agar terasa menyenangkan oleh mereka dan rekaman pun dapat berjalan dengan lancar.

Sepanjang karir Hendra di dunia music, ia telah berkolaborasi dengan banyak penyanyi dan musisi baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa project yang pernah ia kerjakan adalah project Bersama Judika dan Siti Nurhaliza, menjadi pembuat original soundtrack untuk beberapa film Malaysia dan diundang menghadiri gala premier film-film tersebut, beberapa grup band Malaysia yang setara dengan grup band Ungu dari Indonesia serta sederet project cemerlang lainnya.

Selain project berbayar, pria yang pernah berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini juga tak pernah absen menyelenggarakan project charity. Di dalam project ini, Hendra selalu melibatkan musisi-musisi difabel. Salah satu yang pernah ia ikuti adalah charity event untuk penderita tumor. Selain sebagai kegiatan berbagi, project sukarela ini dapat juga menjadi tempat mengasah keterampilan bermusik teman-teman difabel. Hendra memang memiliki misi bahwa difabel lain pun harus dikenal dengan segala potensi bermusik mereka dan tak hanya ia saja yang dikenal oleh publik.

“Seniman itu hasil kerjanya tidak ternilai. Jadi, ketika kita membuat karya, meskipun itu gratis, tapi tetap berharga,” ujar Hendra.

Digital Music Recording memang telah mengantarkan Hendra ke atas puncak kemandirian ekonomi yang tidak lagi abu-abu. Pendapatan setiap bulannya pun cukup menjanjikan. Setiap bulannya ia harus mengeluarkan biaya operasional dan kebutuhan rumah yang tidak sedikit yaitu sekitar 10 hingga 15 juta. Namun nyatanya Hendra dapat menutupi pengeluaran tersebut. Jadi, setiap bulannya ia bisa memperoleh pendapatan hingga 20 juta.

Penghasilannya juga ia investasikan melalui studio rekaman miliknya. Di dalam studio tersebut, terdapat banyak perlengkapan rekaman yang jika ditaksir bisa bernilai lebih dari 100 juta. Perlengkapan-perlengkapan tersebut antara lain tiga buah bass, tiga buah gitar, tiga buah keyboard, ukulele, flute, soundcard dengan berbagai channel, shipping box (biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang professional), komputer dengan speed tinggi, software hinga 1,5 tera dan lain-lain.

Hendra memang termasuk sosok yang mandiri. Dalam menjalankan bisnisnya, ia tidak memiliki staff atau pun manager. Alasan tidak diperlukannya staff adalah terkait dengan kemampuan bermusiknya. Ia merupakan seorang arranger yang juga dapat memainkan berbagai jenis alat musik sehingga staff tetap dirasa tidak perlu. Namun, terkadang ia menggunakan pemain tambahan dan tak jarang difabel netra pun dilibatkan. Selain itu, ia menganggap bahwa pekerjaan seni adalah pekerjaan murni sendiri sehingga ketika project itu dikerjakan secara keroyokan, maka signature atau rasa original dari pekerja seni itu akan hilang.

Menyoal tentang manager, Hendra memiliki persepsi sendiri. Jika keberadaan manajer di dalam bisnisnya hanya bertugas untuk menyiapkan pakaian, mengatur jadwal, mengingatkan, memesankan tiket dan sejenisnya, ia beranggapan bahwa keberadaan manajer lebih baik ditiadakan. Baginya seorang manajer haruslah mampu mendongkrak hidup Henra baik dari segi bermusik atau pun popularitas. Jika manajer tersebut memiliki banyak koneksi dan mampu membuat Hendra dikenal dan menjadi pekerja seni yang lebih baik, mengapa tidak merekrut seorang manajer. Namun, sejauh ini ia belum menemukan manajer yang sesuai dengan kriteria yang ia inginkan.

Akan selalu ada tantangan di dalam menjalankan sebuah bisnis. Dan tantangan yang Hendra hadapi untuk mempertahankan bisnisnya adalah meyakinkan klien dan juga mencari market . Mengenai klien, ia beranggapan bahwa kita harus memiliki kompetensi yang baik di dalam bermusik. Jika skill dan attitude kita baik, klien pun tak ragu dengan pekerjaan kita. Menurutnya, lebih baik kita menyendiri untuk memantapkan skill terlebih dahulu dari pada koar-koar di public tanpa kompetensi yang mumpuni.

Hal lain yang juga ditambahkan oleh Hendra terkait cara untuk meyakinkan klien adalah dengan membuat first project. Hendra menyarankan agar membuat sebuah project awal sebagus mungkin dan letakanlah di media seperti website sehingga siaapapun dapat mengakses dan mengetahui skill kita. Hendra sangat menghindari banjir pujian dan julukan sebagai seseorang nomor satu di suatu bidang namun ketika karyanya dicari di internet tidak ada hasil yang ditemukan. Jadi, pembuktian dan sample project itu penting didokumentasikan.

Sementara itu, untuk memiliki market, Hendra berusaha mempromosikan keahlian serta bisnisnya melalui beberapa cara seperti dari mulut ke mulut dan juga media. Di awal karirnya, Hendra kerap ‘nimbrung’ ketika ada orang-orang yang sedang membicarakan musik dan ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mempromosikan keahliannya. Selain itu, ketika manggung di kafe-kafe, ia juga kerap mempromosikan bisnisnya. Sementara itu, radio sempat ia jadikan media promosi di awal karirnya. Ia sempat menaruh tarif lebih murah demi menggaet market. Media lain yang juga digunakan Hendra adalah website. Ia memposting banyak informasi di website pribadinya seperti CV, video dokumentasi, sample musik bahkan tarif dan cara menggunakan jasanya. Namun, bentuk dedikasi Hendra untuk dunia musik adalah pembuatan podcast. Ia mengelola podcast-nya dengan tujuan berbagi pengalaman dan ilmu.

“Kunci sukses dariku adalah libatkan hatimu dalam setiap pekerjaanmu. Jangan sekedar cari uang. Kalau sekedar cari uang, nanti yang didapat hanya uang. Tapi kalau kita sepenuh hati, kepuasaan didapat, kesinambungan didapat dan otomatis rezeki pun ada terus,” ucap Hendra menutup perbincangan.

Menjadi individu yang mandiri secara ekonomi memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada keyakinan diri, perencanaan dan kompetensi yang harus digali seperti yang telah dilakukan Hendra. Dari Hendra kita belajar bahwa kedifabilitasan janganlah dijadikan tolak ukur dalam mengembangkan segala potensi diri. Jika ingin memiliki kualitas hidup yang lebih baik, cobalah perbaiki sisi ekonomi tanpa melenyapkan perjuangan, usaha, pengorbanan dan profesionalisme.

[Eka Pratiwi Taufanti]

Sumber:
https://www.solider.id/baca/4715-hendra-mandiri-secara-ekonomi-digital-recording

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

62 − 56 =

Hendra Jatmika Pristiwa © 2016