Hendra Jatmika Pristiwa

Music Is My Passion, While Excellence Is My Priority

Berkarya, Mandiri, Tanpa Korupsi

Dalam berita keempat yang Saya posting kali ini, berisi tentang profil Saya yang dimuat dalam salah satu harian nasional terkemuka di Indonesia, yaitu Kompas. Artikel ini ditulis oleh Frans Sartono dan diterbitkan pada awal tahun 2013.

Hal yang cukup berbeda adalah kali ini yang ditampilkan bukan hanya profil Saya sendiri, namun juga beberapa orang tunanetra lainnya. Mereka dianggap telah melakukan sesuatu yang berguna, tak hanya bagi dirinya maupun tunanetra lainnya, namun juga untuk banyak orang non-disabilitas. Mereka adalah Bapak Didi Tarsidi, Bapak Setia Adi Purwanta, serta Bapak Bambang Basuki.

Original source:

http://health.kompas.com/read/2013/02/24/05570227/Berkarya.Mandiri.Tanpa.Korupsi

KOMPAS/FRANS SARTONO

Berkarya, Mandiri, Tanpa Korupsi

”Kebutaan itu bukan kegelapan. Kita bisa bikin terang dengan hal-hal lain. Kami menggali sejuta kelebihan dari satu kekurangan,” kata penyandang tunanetra, Hendra Jatmika Pristiwa.

Dan, inilah para penyandang tunanetra yang berjuang membuat terang, tak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama penyandang tunanetra. Bahkan, juga bagi orang lain di sekitarnya yang notabene disebut ”normal”.

Didi Tarsidi (61), penyandang tunanetra, anak petani miskin dari Sumedang, meraih gelar doktor di bidang bimbingan dan konseling. Ia mengajar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden The World Blind Union untuk Asia Pasifik.

Di Yogyakarta, ada Setia Adi Purwanta (59), pendiri Dria Manunggal, lembaga penelitian dan pemberdayaan warga difabel. Banyak hal ia perjuangkan, salah satunya pembuatan peta taktual bagi penyandang tunanetra.

Kemudian ada Bambang Basuki (62) yang membangun Yayasan Mitra Netra, lembaga nirlaba di Jakarta yang pernah meraih beragam penghargaan tingkat nasional dan internasional. Dari Mitra Netra, sejumlah penyandang tunanetra mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak.

Mereka berjuang keras memosisikan tunanetra sebagai warga negara yang setara dengan warga lain dan menjadi salah satu unsur pembentuk keragaman di masyarakat.

Tunanetra dalam pandangan Didi merupakan salah satu karakter pribadi, seperti halnya pendek, gemuk, berkulit coklat atau hitam. Seperti banyak karakteristik lain yang kadang membutuhkan bantuan atau teknologi asistif, begitu juga tunanetra.

”Orang pendek menggunakan sepatu hak tinggi. Orang yang merasa ada bagian wajah kurang disukai menggunakan kosmetik untuk mengoreksinya,” ujarnya.

Penyandang tunanetra atau orang dengan kekurangan  penglihatan, lanjut Didi, menggunakan komputer untuk membaca, tongkat untuk berjalan, dan alat bantu lainnya. ”Saya percaya Tuhan merencanakan sesuatu yang baik bagi saya. Selalu ada sesuatu yang positif datang dari situasi apa pun,” ujarnya.

Updated: March 25, 2015 — 4:38 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

86 − = 76

Hendra Jatmika Pristiwa © 2016