Hendra Jatmika Pristiwa

Music Is My Passion, While Excellence Is My Priority

Arranger dan Composer Tunanetra

Tulisan kedua yang juga masih memuat profil Saya berjudul “Arranger dan Composer Tunanetra”, yang ditulis oleh Menik Budiarti, dan dipublikasikan dalam situs Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso pada awal tahun 2012. Lembaga ini berada di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Original Source:

http://bpbiabiyoso.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=66

Arranger dan Composer Tunanetra

Oleh Menik Budiarti

Terlahir dalam kondisi tunanetra menyebabkan ia tidak diakui oleh ayah kandungnya sendiri, sehingga terjadi perceraian antara kedua orang tuanya. Akan tetapi perjuangan sang mama mengantarkannya kepada kesuksesan saat ini sebagai seorang arranger dan composer. Ia percaya bahwa apabila diskriminasi disikapi secara benar maka akan menjadi motivasi yang luar biasa untuk membuktikan bahwa disabilitas netra bukanlah beban.

Hendra Jatmika Pristiwa, begitulah nama yang diberikan oleh orang tuanya, merupakan keturunan Jawa – Batak yang lahir dan besar di Cimahi. Anak sulung dari dua bersaudara ini sempat memiliki dua ayah tiri disebabkan orang tuanya dua kali bercerai yang dipicu oleh permasalahan yang sama, ketunanetraan Hendra. Meskipun begitu, ia selalu diajarkan untuk menghormati dan menyayangi sang papa, “tidak akan ada kamu kalau tidak ada papa,” begitu tutur Hendra mengikuti ucapan mamanya. Nasihat mamanya untuk membuktikan anggapan bahwa tunanetra tidak bisa melakukan apa-apa itu salah selalu ia pegang dan berusaha ia buktikan sampai hari ini.

Menghabiskan masa kecil di Cimahi, orang tua Hendra sempat bingung ketika akan menyekolahkannya. TK Bhayangkari Cimahi menjadi pilihan tempat ia sekolah untuk pertama kali. Di TK Umum ini Hendra hanya mendapat tugas bernyanyi. Ketika semua murid ditugaskan untuk menulis dan berhitung, Hendra hanya diminta menggoreskan apapun yang terlintas di imajinasinya. Meskipun begitu, ketertarikan Hendra pada musik sudah sangat jelas terlihat. Di usia 7 tahun, Hendra sudah berani tampil di panggung HUT RI tingkat RT untuk bernyanyi sambil bermain gitar. Hendra juga termasuk anak yang senang mencoba berbagai hal baru, termasuk hal yang terhitung ekstrim untuk seorang tunanetra, dari bermain petak umpet sampai bermain di sungai. Sebagaimana kebanyakan anak tunanetra lainnya, pada awalnya Hendra pun tidak menyadari bahwa ia berbeda dari yang lain, hingga suatu hari dalam perbincangan yang tidak disengaja, sang mama memberitahukan kepadanya bahwa ia memiliki kondisi yang berbeda yaitu tidak bisa melihat. Tentu saja karena usianya yang masih kecil, Hendra belum merasakan perbedaan yang berarti hanya “kalo main kucing-kucingan saya babak belur sementara yang lain lari-lari selamat-selamat aja,” begitu imbuhnya sambil tertawa.

Ketika di TK Hendra sempat dikunjungi seorang wartawan Amerika yang menerbitkan profilnya dalam sebuah majalah asing. Ia menawarkan Hendra untuk ikut dan bersekolah di Amerika, tapi karena kekhawatiran orang tuanya, Hendra memutuskan untuk menolak tawaran tersebut dengan alasan tidak ingin jauh dari orang tua. “Sekarang saya baru berpikir, kalau saya ikut mungkin sekarang entah saya sudah jadi apa, mungkin sudah duduk bersama Bill Gates,” candanya sambil tertawa. Kompensasinya, Hendra lantas disekolahkan di Sekolah Terpadu Sosial Cibabat, sebuah sekolah dasar umum yang menerima murid disabilitas, tentunya dengan menyediakan guru pendamping. Ia mengaku cukup cepat dalam menangkap pelajaran yang diberikan. Menurutnya pelajaran SD waktu itu tidak sesulit pelajaran SD saat ini. Pak Nawawi, guru pendamping Hendra yang sekarang menjadi Dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, bertugas mengajarkan baca/tulis Braille dan menerjemahkan tugas-tugas yang ditulis Hendra menggunakan Braille untuk dinilai guru kelasnya. Pak Nawawi mendampingi Hendra hingga ia lulus Sekolah Dasar.

Ketika SMP, Hendra mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa. Perbedaan suasana yang sangat jauh membuatnya merasa jenuh. Bagaimana tidak, terbiasa berteman dengan 40 orang anak ketika di SD, tiba-tiba ia hanya mendapatkan lima orang teman ketika di sekolah luar biasa. Pernah suatu ketika, Hendra yang biasanya menjawab semua pertanyaan gurunya dengan benar, karena kejenuhannya ia sengaja menjawab salah. Sudah barang tentu sang guru tak percaya kalau Hendra tidak bisa menjawab dengan benar. Setelah didesak akhirnya Hendra menerangkan, “Saya bosan Pak, mau dinilai sepuluh pun saya tidak bangga karena memang tidak ada persaingan.”

Updated: March 24, 2015 — 3:36 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

93 − = 88

Hendra Jatmika Pristiwa © 2016